Agrobisnis

Blog Pertanian, perkebunan, agrobisnis, agroindustri dan agrowisata.

Bisnis Pupuk Hayati Prospek di Depan Mata

KELUHAN pelanggan bisa menjadi peluang bisnis yang menggiurkan, setidaknya bagi Rainer Tobing. Banyak pelanggan bibit tanaman buah mengeluh tanah keras. Maka, Rainer memproduksi pupuk hayati yang kini menjadi tambang rupiah.

Soal keluhan tanah yang berubah keras itu kerap didengar Rainer Tobing pada dua tahun lampau. Saat itu ia berniaga bibit hortikultura. Ia tergerak untuk memperbaiki kondisi tanah dengan memproduksi pupuk hayati. Untuk mewujudkan impian itu ia mendatangi Balai Proteksi Tanaman dan Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI. Dari 2 lembaga itu ia memperoleh 3 spesies mikroba yang antara lain berfungsi menambat nitrogen.

Mikroba itulah yang ia olah menjadi pupuk hayati bermerek Fertiganic. Kini produk Fertiganic menjadi sumber pendapatan bagi Rainer. Setiap bulan ia memproduksi 11.000 liter yang terserap pasar. Ia menjual pupuk itu Rp20.000 per liter. Sayang, ia enggan membeberkan total biaya produksi. Jika ia mengutip laba bersih minimal 10% saja, maka keuntungan Rainer fantastis: Rp22-juta.

Diterima

Dalam dua tahun terakhir, produsen pupuk hayati seperti Rainer bermunculan seiring dengan rusaknya lahan pertanian. Kerusakan itu antara lain dipicu oleh penggunaan pupuk kimiawi berlebihan. Dr Darmono Taniwiryono, kepala Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan, mengatakan petani menganggap kebutuhan tanaman sebatas unsur nitrogen, fosfor, dan kalium. “Padahal, kebutuhan tanaman sangat banyak termasuk mikroba dan organisme lain,” kata Darmono.

Produsen pupuk hayati menawarkan solusi untuk mengatasi kerusakan lahan itu. Pupuk hayati berisi spesies-spesies mikroba yang umumnya berperan menambat nitrogen, melarutkan fosfat dan kalium. Ketika pupuk hayati itu diterapkan di lahan, produksi tanaman mulai meningkat, walau pemberian pupuk kimia berkurang.

Itulah sebabnya kehadiran pupuk hayati di pasaran diterima konsumen. “Setelah ada bukti-bukti penjualan pupuk hayati kami mulai menggeliat,” kata Dimas W. Prasetyo, yang menguji coba pupuk hayati buatannya pada petani ubi jalar jepang. Produsen pupuk di Pondokpinang, Jakarta Selatan, itu ingat betul ketika memulai usaha 4 tahun lalu: untuk menghabiskan 300 botol volume 100 ml saja perlu waktu berbulan-bulan.

Kini dari 9 jenis pupuk yang diproduksinya rata-rata sudah mencapai tingkat penjualan 5.000 botol per bulan. Keuntungan pun terus membubung dan kategori usaha bergeser dari skala rumahtangga ke semipabrik.

Bukti Empiris

Menurut Dimas, pupuk hayati sebetulnya bukan barang baru. Dengan menyiramkan air rendaman jeroan ikan dan unggas, serta dedaunan pada tanaman, sudah bisa diartikan pekebun telah mengaplikasikan pupuk hayati. Cuma, karena pengerjaannya tidak praktis dan efeknya tidak secepat pupuk kimia, pemanfaatan pupuk hayati ditinggalkan. Pupuk hayati hanya sebagai alternatif kala pupuk kimia sulit didapatkan.

Tren penggunaan pupuk hayati sejalan dengan peningkatan jumlah produsen. Semakin banyak produk pupuk hayati di pasaran, semakin baik bagi petani. Mereka bisa memilih pupuk yang sesuai dengan lahan dan komoditas yang diusahakan. Sekarang tercatat ada 36 merek pupuk hayati legal yang beredar di pasaran dan ratusan merek lain belum mendapat izin dari lembaga terkait. Itu mengisyaratkan pula kemudahan pembuatan pupuk hayati.

Lihatlah, Diah Meidianti di Bekasi, Jawa Barat, cukup mengumpulkan kotoran ayam untuk mendapatkan trichoderma, azospirillum, dan azotobacter. Mikroba-mikroba itu ia gunakan dalam pupuk hayati produknya. Hasilnya, kangkung, selada, kacang panjang, dan terung yang ditanam di lahan seluas 3.500 m®MDSU¯2 tumbuh subur.

Sama seperti yang dilakukan Junaedi di Karangsari, Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon. Alumnus Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Universitas Jenderal Soedirman itu hanya merendam buah belimbing dan sayuran busuk, serta ikan untuk membuat pupuk hayati dapat merangsang pembuahan lengkeng dan menumbuhkan kelekap dalam kolam bandeng. “Bahannya memang ada di sekitar kita dan murah. Yang sulit adalah memadukan beragam mikroba dalam satu media,” ujar Wayan Supadno, formulator pupuk hayati.

Uji Laboratorium

Pengalaman Wayan untuk memastikan media yang dibuatnya cocok bagi beberapa mikroba, perlu belasan kali uji laboratorium. Padahal setiap kali uji menghabiskan Rp10 juta–Rp20 juta. Toh, itu bagi Wayan menjadi suatu keharusan karena keunggulan pupuk hayati terletak pada jumlah jenis dan populasi mikroba yang bermanfaat bagi tanaman seperti Azospirillum sp, Azotobacter sp, Pseudomonas sp, Bacillus sp, dan Streptomyces sp.

Pupuk hayati yang banyak beredar di pasaran minimal mengandung 2 jenis mikroba dengan populasi 103-105 cfu/ml. “Pupuk hayati yang saya produksi terdiri atas 6 mikroba dengan populasi 105-108,” kata Wayan sambil menunjukkan sertifikat pengujian dari Institut Pertanian Bogor. Wayan kini tengah mengujicoba beberapa formulasi pupuk hayati untuk memacu produksi ikan, unggas, dan ruminansia.

Bahan yang digunakannya sama dari daun tumbuh-tumbuhan yang diperoleh tidak jauh dari tempat tinggalnya di Cibubur, Jakarta Timur. Produk pupuk hayati perdana Wayan yang ditujukan melipatgandakan produksi dan menyerentakkan panen sudah merambah para pekebun di dalam dan luar Pulau Jawa. Setiap liter produk pupuknya dibanderol Rp90 ribu di tingkat petani.

“Untungnya sekitar 40%. Bahkan bisa lebih jika biaya pengiriman bisa ditekan,” ujar dia. Makanya Dimas, Wayan, Junaedi, dan beberapa produsen lain sepakat bahwa pupuk hayati bisnis cerah di depan mata. TRUBUS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 7, 2010 by in Pupuk Organik and tagged , , , .

Tukar Link yuk. Copypaste kode ini aja..
<a href="https://blogagrobisnis.wordpress.com/" target="_blank" title="Blog Agrobisnis"> <img src="https://blogagrobisnis.files.wordpress.com/2010/01/blog-agro.png" alt="Blog Agrobisnis"> </a>


%d blogger menyukai ini: