Agrobisnis

Blog Pertanian, perkebunan, agrobisnis, agroindustri dan agrowisata.

Penyubur dari Dapur

SEKALI mengolah sampah, beragam manfaat diraih: persoalan sampah perkotaan teratasi, lingkungan segar, dan memperoleh sumber nutrisi. Sukamto Hadisuwito mengerti betul sengsaranya hidup di lokasi pembuangan sampah. Angin menerbangkan bau busuk ke rumahnya yang berjarak tujuh meter dari lokasi pembuangan sampah di Cempakabaru, Jakarta Pusat.

Lalat beterbangan di atas sampah yang menggunung dan acap kali mendekati rumahnya. Kondisi itulah yang mendorong Sukamto merakit alat pengolah sampah. Alat itu berupa tong plastik sebagai komposter mini atau tempat pengomposan sampah. Dengan peranti itu ia mengomposkan sendiri sampah organik sehingga tak membuang sampah.

Menurut I Nyoman Pugeg Aryantha, ahli mikrobiologi dari Institut Teknologi Bandung, idealnya sampah rumah tangga memang diolah menjadi pupuk organik.

®MDUL¯Sukamto membuat lubang berdiamater 4 cm di kedua sisi atas tong plastik, kira-kira 10–15 cm dari atas tong berkapasitas 60 liter. Sebuah lubang di bagian bawah, sekitar 10 cm di atas dasar tong. Ia menambahkan instalasi pipa polivinilchlorida (PVC) di dalam tong. Pipa-pipa itu ia lubangi untuk mengalirkan udara dari dan keluar tong. Persis ventilasi di sebuah rumah. Dengan sirkulasi udara yang bagus, maka suhu dalam komposter selama pengomposan tidak terlalu panas. Bila suhu stabil mikroba pengurai bahan organik bertahan hidup (lihat boks: Pabrik Mini).

Dengan komposter mini Sukamto mengolah sampah organik menjadi pupuk cair. Mula-mula ia memisahkan antara sampah anorganik dan organik seperti potongan sayuran dan buah serta sisa makanan. Alumnus Organization for Industrial Spiritual and Cultural Advancement (OISCA), Jepang, itu memotong-motong sampah organik berukuran besar untuk mempercepat proses penguraian. Sukamto kemudian menyemprotkan mikroba bioaktivator di sampah itu. Di pasaran banyak beredar bioaktivator seperti Boisca, EM4, dan Promi. Setelah mengaduk rata, barulah ia memasukkan sampah ke dalam tong.

Sampah itu menjalani proses fermentasi selama 2 pekan. Setiap 2 hari atau saat menambahkan bahan organik baru, sampah dalam tong diaduk agar penguraian berlangsung optimal. Sampah yang semula di permukaan, ia balik ke bagian bawah dan sebaliknya. Dua pekan berselang ia memanen perdana pupuk organik cair. Setelah itu, setiap hari ia memanen pupuk karena setiap hari pula ia menambahkan sampah ke dalam tong.

Bentuk pupuk cair berupa lindi alias cairan berwarna cokelat kehitaman. Untuk mengeluarkan pupuk cair, ia tinggal memutar kran dan menampung cairan di dalam botol. Pupuk organik cair itulah yang dimanfaatkan oleh Sukamto untuk memenuhi kebutuhan beragam tanaman seperti mangga, sansevieria, dan palem. Sebelum disiramkan ke tanaman, pupuk organik cair itu diencerkan dengan perbandingan 1:5. Artinya 1 liter pupuk cair perlu penambahan 5 liter air bersih.

Menyebar

Teknologi pengolahan sampah itu kemudian disebarluaskan ke masyarakat. Hingga kini ratusan komposter mini bikinan Sukamto digunakan oleh warga di Cempakabaru, Jakarta Pusat. Akibatnya sampah tak lagi menggunung di dekat rumah Sukamto. Lahan 700 m2 itu kini tampak asri dan hijau. “Rata-rata setiap hari satu keluarga menghasilkan 2 kg sampah organik. Bila setiap hari sampah itu dikumpulkan dan difermentasi selama 2 pekan dapat menghasilkan sekitar 50 liter kompos cair,” kata pria kelahiran 27 November 1950 itu.

Djadjuli Sadikin, pekebun di Pasirangin, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengatakan pengomposan bahan organik menjadi pupuk bermanfaat dalam mengatasi kelangkaan pupuk kimia. Ia juga mengomposkan beragam bahan organik, seperti sisa-sisa makanan, daun bambu, batang pisang, dan lumpur dari dasar kolam. Hasil pengomposan itu digunakan untuk memupuk 20 jenis sayuran yang ia budidayakan seperti caisim, terung, labu siam, selada, kangkung, bayam jepang, dan cabai.

Menurut Dr. Toto Himawan dari Universitas Brawijaya, pupuk organik dibuat dari bahan organik seperti tanaman dan kotoran ternak yang telah dikomposkan. Standar pupuk organik harus memiliki C organik 12% dan N organik sangat rendah, kurang dari 20%. Dengan komposter mini, Sukamto mampu memenuhi standar itu. “Adanya isu untuk memanfaatkan sumber yang ramah lingkungan mendongkrak popularitas pupuk organik untuk menghasilkan tanaman organik yang ramah lingkungan,” kata Himawan.

Langkah Sukamto mengolah sampah menjadi pupuk organik cair bukan hanya menjamin ketersediaan nutrisi bagi tanaman. Namun, ia juga membantu pemerintah mengatasi persoalan sampah. Menurut Dinas Kebersihan DKI Jakarta produksi sampah di DKI Jakarta mencapai 26.945 m3 per hari. Dari jumlah itu setengahnya berupa sampah organik. Bila sampah organik bisa diolah menjadi kompos atau pupuk cair, maka hampir separuh sampah kota Jakarta teratasi.

Untuk urusan sampah, Jakarta mengeluarkan biaya minimal Rp32-miliar. Jakarta membayar Rp103.000 per ton sampah yang dibuang ke Bantargebang, Kotamadya Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Padahal, Jakarta menghasilkan 6.000 ton sampah sehari. Langkah Sukamto membantu mengurangi besarnya biaya pengelolaan sampah yang ditanggung pemerintah. n TRUBUS/R-2

1. Siapkan satu tong plastik berkapasitas 60 liter.

2. Buat lubang berdiameter 4 cm, 10–15 cm dari permukaan atas tong. Buat juga sebuah lubang berdiameter 2,6 cm di bagian bawah tong, kira-kirang 10 cm di atas dasar tong.

3. Siapkan total 4 pipa polivinilchlorida (PVC): 2 pipa (A dan B) berdiamter 1,5 inci, panjang 15 cm. Dua pipa lain (C dan D) berdiameter 1 inci dan panjang 20 cm dan sambungan pipa T & L serta kran. Permukaan pipa A, B, dan C dilubangi sekelilingnya menggunakan bor berdiameter 0,5 cm dengan jarak antarlubang 4 x 2 cm. Jumlah lubang di pipa A dan B 12 buah; pipa C, 18 buah. Pipa D tidak dilubangi dan di bagian ujung dipasangi keran yang berfungsi sebagai tempat mengalirkan pupuk cair.

4. Pipa A dan B disatukan dengan penyambung T. Kedua ujung pipa itu dimasukkan ke dalam lubang di dinding tong hingga menembus sisi tong. Tutup kedua ujung pipa dengan kain kasa. Sedangkan pipa C disambungkan di bagian bawah.

5. Setelah itu bagian ujungnya juga disambung kembali dengan pipa PVC yang dipasangi keran. Penyambungan dilakukan dengan sambungan pipa L.

6. Setelah semua pipa terpasang, tong komposter siap digunakan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 6, 2010 by in Pupuk Organik and tagged , , , , .

Tukar Link yuk. Copypaste kode ini aja..
<a href="https://blogagrobisnis.wordpress.com/" target="_blank" title="Blog Agrobisnis"> <img src="https://blogagrobisnis.files.wordpress.com/2010/01/blog-agro.png" alt="Blog Agrobisnis"> </a>


%d blogger menyukai ini: