Agrobisnis

Blog Pertanian, perkebunan, agrobisnis, agroindustri dan agrowisata.

Bisnis Cabai Antirugi

INI yang Iswanto lakukan saat senggang setiap Ahad sejak Maret 2008. Ia berkeliling Kabupaten Bantul dan Kulonprogo naik sepeda motor. Di kedua sentra cabai di Provinsi DI Yogyakarta itu Iswanto mengintip perkembangan luas lahan penanaman cabai merah.

Hasilnya, pada November 2009, Iswanto mengantongi pendapatan Rp2,5 juta saat panen kesembilan dari lahan seluas 1.800 meter persegi. Di akhir musim panen sekitar Januari 2010, briptu polisi itu total bakal meraup pendapatan Rp25 juta.

Pengamatan itu dilakukan Iswanto semata-mata untuk menentukan waktu pas bertanam cabai. Itu buntut dari melesetnya perolehan omzet pekebun di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta itu, saat pertama kali menanam cabai pada Desember 2007. Ketika itu dengan populasi 6.500 tanaman di lahan seluas 4.000 meter persegi, Iswanto berhitung bakal meraih omzet Rp40 juta dari produksi 4 ton cabai. Namun apa lacur, ia cuma mengantongi Rp14 juta. Toh ia tidak merugi karena modal yang dikeluarkan hanya Rp8 juta.

Anjloknya omzet itu diduga Iswanto efek dari meluasnya penanaman cabai di sentra. Begitu musim petik tiba, panen melimpah. Imbasnya harga cabai terjun bebas mencapai Rp3.500–Rp6.000/kg dari semula Rp10 ribu/kg. Berkaca dari pengalaman itu, saat menanam cabai berikutnya di lahan 1800 meter persegi, pada Agustus 2009, Iswanto sudah melihat luas lahan tanam di sentra jauh berkurang.

Iswanto menanam 2.250 cabai keriting varietas sakti yang produksinya mencapai 1 kg/tanaman. Dua setengah bulan pascabibit–memiliki dua daun–ditanam, sebanyak 1,5 kg cabai dipetik saat panen perdana. Berikutnya pemetikan berlangsung setiap 2–3 hari dengan hasil 5 kg, 15 kg, 100 kg, dan seterusnya hingga diperoleh 2,5 kuintal dipanen kesembilan.

Masa panen diperkirakan berlangsung 25 kali dengan total produksi 2,5 ton. Dengan harga cabai Rp10 ribu/kg dipotong ongkos produksi Rp3.500–Rp4.000/kg, Iswanto bakal meraup pendapatan Rp25 juta pada Januari 2010.

Pasokan terbatas

Nun di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Asep Halim berlaku serupa. Bedanya ia menggali informasi kepada Dinas Pertanian setempat dan bandar di tiga pasar besar: Pasar Kramatjati, Jakarta Timur; Pasar Tanah Tinggi, Tangerang; dan Pasar Caringin, Bandung. Itu dilakukan untuk memantau penanaman cabai di sentra Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menurut Asep, yang mengebunkan dua hektare cabai itu, pekebun di Jawa Tengah dan Jawa Timur biasa menanam saat masuk musim hujan, sekitar Agustus–September dan panen sekitar November–Desember.

Dengan kondisi itu, Asep memilih masa tanam pada November–Desember dan panen pada Februari–Maret. “Saat itu harga sekitar Rp6.000/kg,” kata Asep yang dapat mengantongi laba Rp2.000/kg. Kalaupun waktu penanaman persis sama, ia menyiasati dengan mengurangi luas lahan minimal 40%. Pada Oktober 2009, misalnya, Asep memanen 7.200 cabai keriting dari lahan seluas 0,5 hektare yang ditanam sejak Agustus 2009. Dengan produksi 7 ton cabai dan harga jual Rp20 ribu/kg, Asep mengantongi omzet Rp140 juta.

Kini pekebun cabai memang dituntut jeli membaca situasi pasar. Tujuannya supaya mereka menikmati harga bagus saat panen seperti dialami Iswanto. Selama ini masih banyak pekebun latah. Mereka beramai-ramai menanam ketika harga cabai tinggi dan tak mau menanam saat harga rendah. Padahal, jumlah produksi ditentukan dari luas penanaman tiga bulan sebelumnya.

Sejatinya ayun ambing harga cabai lumrah lantaran cabai merupakan komoditas tidak bersubstitusi. Ia tidak dapat digantikan lada, misalnya, meski sama-sama memberikan rasa pedas. Kala produksi melampaui daya serap pasar atau sebaliknya kekurangan pasokan, harga leluasa terkoreksi. Menurut pengamat pertanian di Yogyakarta, Sudadi Ahmad, puncak harga cabai keriting, misalnya, terjadi pada Oktober–November. Musababnya pasokan terbatas lantaran masa tanam sekitar Agustus banyak kendala. Selain musim kemarau sehingga paceklik air. “Saat itu puncaknya populasi hama thrips,” kata dia. Pantas bila harga cabai melesat hingga Rp20 ribu–Rp25 ribu/kg.

Fluktuasi harga harian dan lokal, menurut Sudadi, juga terjadi karena petani memakai cabai hibrida F2 hasil pembenihan sendiri. Kehadiran cabai lanang yang kualitasnya rendah itu mendorong harga cabai setempat menurun. Pun munculnya petani musiman yang mengandalkan tanah tadah hujan saat penanaman sekitar Oktober–November.

Secara umum harga cabai pada 2009 tergolong tinggi. Lihat saja harga terendah di berbagai daerah berkisar Rp3.000–Rp4.000/kg dan harga tertinggi mencapai Rp25 ribu/kg. Bahkan saat lebaran harga cabai keriting mencapai Rp30 ribu/kg selama 2–3 hari. “Harga rata-rata pada 2009 sekitar Rp10 ribu/kg,” ujar Wawan, manajer wilayah PT Tunas Agro Persada di Magelang, Jawa Tengah. Bandingkan dengan harga pada 2007 yang angka terendah dan tertinggi masing-masing Rp2.500–Rp3.000/kg dan Rp20 ribu–Rp23 ribu/kg.

Pola tanam

Maka dari itu strategi pengaturan pola tanam menjadi hal penting. Data sub Direktorat Tanaman Sayuran Buah Dirjen Hortikultura di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, menunjukkan dari rencana dan realisasi luas tanam cabai pada 2009, rencana penanaman seluas 115.625 ha di 21 provinsi terealisasi 101.221 hektare. Minus 14.405 hektare. Kondisi itu turut andil memicu gejolak harga.

Ada berbagai penyebab rencana itu meleset seperti penurunan target penanaman. Contoh Jawa Barat. Dari rencana penanaman seluas 17.231 ha pada 2009. Menurut Ir. Eti Mulyati M.M. dari seksi Bina Usaha Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat, target tercapai sekitar 15.986 ha (187.730 ton). Target itu tidak terealisasi, misalnya, akibat kemarau panjang. “Banyak petani mengurangi lahan cabai dari 1 ha menjadi 0,5 ha,” kata Yoke Djuwita Yusuf, ketua Asosiasi Pedagang Komoditas Agro (APKA) Jawa Barat.

Padahal kebutuhan pasar cenderung naik. Data Sub Direktorat Tanaman Sayuran Buah Dirjen Hortikultura menyebutkan tingkat konsumsi cabai Indonesia melonjak menjadi 5,03 kg/tahun (2008) dari sebelumnya 4,0 kg/tahun (2004). Sebab itu, mau tak mau petani perlu menggenjot produksi. Ketua umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI), H. Dadi Sudana, menyebutkan produktivitas cabai di Indonesia rendah. Di China, misalnya, populasi per hektare mencapai 80 ribu–100. ribu tanaman; lokal 18 ribu–20 ribu/ha. Produktivitas pun melonjak menjadi 24–30 ton/ha, di Tanah Air 15–20 ton/ha.

Peningkatan produksi memang salah satu siasat untuk mengimbangi ayun ambing harga cabai. Untung Marsudi, misalnya, memakai pupuk mengandung potasium klorat KCl03 dan sodium klorat NaCl03 untuk budi daya 9.000 cabai keriting dan 14 ribu cabai besar di lahan 1,5 ha. Hasilnya, produksi cabai melesat mencapai 1,02 kg/tanaman dari produksi rata-rata nasional sebesar 0,6–0,8 kg/tanaman. Peneliti dari Balai Penelitian Tanaman

Sayuran (Balitsa), Nani Sumarni Ardiwilaga, menduga kandungan potasium klorat membuat cabai tahan penyakit dan mencegah buah rontok. Ujung-ujungnya membuat produksi meningkat.

Jazi Mulyadi di Desa Kadipaten, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, memilih bertanam secara organik. Di lahan seluas 1 ha ia menanam 10.500 cabai keriting dan 500 cabai besar. Lahan itu sebelumnya diberi kompos dari fermentasi kotoran domba memakai stater bakteri. Dari setiap tanaman yang disemprotkan hormon tumbuh itu diperoleh produksi hingga 1 kg/tanaman. Cara organik itu memang tak murah.

“Biaya produksi sekitar Rp7.000–Rp8.000/kg,” kata Jazi. Namun, biaya produksi dua kali lipat cara konvensional itu tetap memberi untung besar lantaran harga cabai organik dipatok Jazi Rp15 ribu–Rp25 ribu/kg. “Konsumen mau membeli karena daya tahan simpan cabai lama, bisa lebih dari seminggu,” ujarnya.

Siasat lain ditempuh Fredy Salim di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Ia menanam cabai di lahan seluas 50 ha sepanjang tahun. “Ini satu-satunya cara supaya untung karena suatu ketika pasti ketemu harga bagus,” ujar pekebun cabai selama 31 tahun itu. Saat masuk musim hujan sekitar Januari–Februari, Fredy mengurangi lahan penanaman hingga 90%. “Supaya tidak rugi karena di musim hujan banyak hama penyakit,” kata dia.

Industri Pengolahan

Menurut Anang Dwi Susilo dari PT Sygenta Indonesia, produsen benih di Jakarta, saat ini permintaan benih secara nasional mencapai 27 ton per tahun. Jenis cabai dengan rasa lebih pedas dan tahan penyakit layu bakteri paling diminati pekebun. “Produk kami seperti bestando, red hot, dan SG hot 99 sangat laku karena memenuhi syarat itu,” kata dia.

Anang menuturkan komposisi cabai keriting dan cabai besar hampir sebanding meski terjadi pergeseran penanaman jenis seperti terjadi di Jawa Timur. Di sana 10 tahun silam sulit menemui pekebun cabai keriting. “Sekarang mulai banyak pekebunnya. Indikasinya terlihat dari serapan benih yang mencapai 1 ton/tahun,” kata Anang. Itu tak lepas dari berbagai keunggulan cabai keriting: mudah dirawat dan memiliki masa simpan lama.

Pasar tradisional tetap pangsa pasar terbesar karena menyerap hingga 90%. “Kami dapat menjual 4–6 ton/hari,” ujar Nunung, bandar cabai di Pasar Kramatjati, Jakarta Timur. Di luar itu sekitar 10% diserap industri pengolahan seperti industri cabai bubuk dan saus. Mestinya persentase itu dapat lebih besar mengingat kebutuhan olahan demikian tinggi. “Jakarta saja membutuhkan sampai 100 ton cabai bubuk per bulan,” ujar Mustari Anies dari PT Ganesa Abditama, produsen cabai dan rempah bubuk di Cipayung, Jakarta Timur.

Untuk menangkap peluang pasar besar itu petani kudu cekatan membereskan berbagai masalah hama dan penyakit menahun seperti penyakit bulai, hama thrip dan ulat grayak, serta virus kuning dan virus gemini. Dr. Ir. Ati Srie Duriat APU dari Balitsa mengungkapkan virus gemini yang hingga kini momok bagi pekebun sebetulnya dapat dikendalikan sejak masa persemaian dan tanam di lahan. “Bila 10% dari populasi tanaman kena cukup dilakukan penyulaman (diganti, red) tanaman baru,” kata dia. Di atas persentase itu baru dilakukan pergantian total.

Hal lain untuk menekan kerugian kerabat tomat itu adalah melakukan pergiliran tanaman. untuk memutus rantai penyakit. Bila lahan tak putus ditanami cabai, “Seperti kasus di Magelang dan Muntilan penyakit bulai selalu menyerang 80% populasi cabai,” kata Wawan. Jika sudah begini, obat membuat ketar-ketir pekebun: penanaman cabai mesti disetop selama 5 tahun. Pada akhirnya pekebun memang perlu tahu kapan waktu tepat menanam cabai. Itu yang dilakukan Iswanto saat memutuskan untuk terus bertanam cabai. n TRUBUS/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 5, 2010 by in Agrobisnis and tagged , , .

Tukar Link yuk. Copypaste kode ini aja..
<a href="https://blogagrobisnis.wordpress.com/" target="_blank" title="Blog Agrobisnis"> <img src="https://blogagrobisnis.files.wordpress.com/2010/01/blog-agro.png" alt="Blog Agrobisnis"> </a>


%d blogger menyukai ini: