Agrobisnis

Blog Pertanian, perkebunan, agrobisnis, agroindustri dan agrowisata.

Akhir Pesta ‘Phytophthora’

WALAU ukuran tubuhnya amat kecil, Phytophthora infestans pernah merenggut nyawa sejuta orang Irlandia akibat kelaparan pada kurun 1830–1845. Sebanyak 1,5 juta jiwa lainnya mengungsi ke Amerika. Paceklik itu terjadi karena ulah Phytophthora yang menyerang kentang.

Cendawan penyebab penyakit hawar daun itu memang bandel. Bila bagian tanaman kentang yang terinfeksi dibuang, spora cendawan masih mampu menyebar karena angin. Setetes air pada permukaan tanaman, cukup bagi spora berkecambah dan menginfeksi tanaman. “Kerugian yang diderita pekebun mencapai 40-100%,” kata Euis Suryaningsih, A.P.U., ahli penyakit kentang dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran.

Gejala penyakit hawar daun berupa bercak hitam kecokelatan atau keunguan di daun, tangkai, atau batang. Pada kelembapan tinggi 90–95% dan suhu 18–20 derajat Celsius, bercak berkembang cepat. Serangan cendawan terutama mengganas pada musim hujan. Pada daun bagian atas, bagian paling luar berwarna kuning dan terus menjalar ke bagian daun yang masih hijau. Di sisi bawah daun tampak spora cendawan berwarna putih. Tak heran dalam 2 hari tanaman pun mati.

Untuk mengatasi serangan hawar daun pekebun menyemprotkan fungisida berbahan aktif metalaksil, mankozeb, dan maneb. Frekuensi penyemprotan 3 kali sehari sehingga biaya produksi melambung. Slamet Rohman, pekebun di Desa Batur, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, menghabiskan Rp15 juta untuk menghalau serangan cendawan anggota famili Phytiaceae itu. Artinya, sepertiga dari biaya produksi hanya untuk pembelian fungisida. Celakanya cendawan P. infestans bermutasi dan kebal terhadap fungisida.

Persilangan

Oleh karena itu, varietas kentang tahan hawar daun sangat penting. Sebab, penggunaan varietas tahan hawar daun lebih ramah lingkungan sekaligus menekan biaya produksi. Menurut Muhammad Herman, periset Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetika Pertanian (BB Biogen), Bogor, Jawa Barat, terdapat dua cara menghasilkan kentang tahan hawar daun.

Pertama, dengan menyilangkan kultivar kentang katahdin transgenik. Varietas katahdin dari Universitas Wisconsin, Amerika Serikat, itu disisipi gen RB Resistant from Bulbocastanum. Gen RB adalah gen ketahanan berspektrum kuat dari spesies kentang liar Solanum bulbocastanum. Cara penyilangan ditempuh Dinar Ambarwati, periset di BB Biogen.

Ia menggunakan kentang transgenik katahdin SP904 dan SP951–keduanya tahan hawar daun–sebagai tetua jantan. Induk betina berupa kentang atlantik dan granola. Anggota famili Solanaceae itu tumbuh di media campuran arang sekam, tanah, dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1:1.

Untuk mencegah pembentukan umbi, Dinar meletakkan batu bata di bagian atas media. Dalam riset, umbi tak diharapkan karena yang penting adalah munculnya bunga. Ia juga memotong tunas aksiler untuk mengurangi kompetisi tanaman dalam memperebutkan nutrisi.

Emaskulasi alias penyerbukan pada tetua betina dilakukan sebelum masak putik atau 1–2 hari sebelum bunga mekar. Caranya, ia membuka daun mahkota menggunakan pinset dan membuang benang sari sehingga tersisa putik. “Putik yang siap diserbuki ditandai adanya lapisan lendir di permukaan kepala,” kata master Pertanian dari Universitas Keio, Jepang itu.

Sebelumnya Dinar mengumpulkan tepungsari tetua jantan dalam tabung gelas kecil. Ia lalu menutup bunga yang diserbuki dengan kantong kertas berlabel kode persilangan, asal tetua, dan tanggal persilangan. Sepekan pascapenyerbukan bakal buah membesar dan menghasilkan beris alias buah kentang berwarna hijau bulat berdiameter 2,5 cm.

Terbukti Tahan

Beris masak dan siap panen setelah 4–5 pekan pascapenyerbukan. Perempuan kelahiran Yogyakarta itu memeram beris 3–5 hari agar lunak dan mudah dikupas. Ia mengeluarkan biji dari buah, mencuci bersih agar terbebas dari lendir, dan mengeringkan di atas kertas saring. Biji kemudian direndam dalam larutan asam giberelin GA3 berkonsentrasi 1.500 ppm selama 24 jam untuk mencegah dormansi alias istirahat.

Biji kentang berwarna krem berdiameter 0,5 mm. Jumlah beris terbanyak, 38 buah, pada silangan granola dengan SP951. Rata-rata jumlah biji per beris 81–140 biji. Dari persilangan atlantik dan SP904 serta atlantik dan SP951, Dinar memperoleh masing-masing 65 dan 77 progeni F1 atau generasi pertama penyilangan yang mengandung gen RB. Sementara untuk silangan granola dan SP904 serta granola dan SP951 menghasilkan masing-masing 47 dan 71 progeni.

Ia menguji lapang galur-galur itu di Pasirsarongge, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, berketinggian 1.120 meter di atas permukaan laut. Granola, atlantik, dan katahdin nontransgenik ditanam terlebih dahulu sebagai sumber inokulum. Hasilnya, 77 hari pascatanam, beberapa galur progeni hasil silangan tahan terhadap serangan hawar daun. Infeksi kurang dari 25%. Granola, atlantik, dan katahdin nontransgenik 100% terserang hawar daun. Jika tak ada aral, calon varietas baru tahan hawar daun itu bakal dirilis pada 2010.

Cara lain untuk menghasilkan kentang tahan hawar daun dengan teknik transformasi genetik seperti dilakukan oleh Edy Listanto. Periset di BB Biogen itu mentransfer gen RB ke genom atau bahan genetik kentang melalui bakteri Agrobacterium tumefaciens. Selanjutnya gen menghuni genom tanaman yang akan ditransformasi.

Hasilnya beberapa ribu eksplan ruas batang in vitro berhasil ditransformasi dengan gen RB. Indikator keberhasilan proses itu, eksplan mampu hidup pada media yang mengandung agen seleksi. Hasil uji ruang inkubator di Balitsa, dari 20 tanaman yang diuji, 4 masuk kategori yang tahan terhadap isolat cendawan P. insfestans yang berasal dari Lembang, Bandung, Jawa Barat. Beragam teknik itu bermuara pada satu tujuan: menghasilkan kentang antihawar daun. n TRUBUS/R-2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 29, 2009 by in Penyakit Tanaman and tagged , .

Tukar Link yuk. Copypaste kode ini aja..
<a href="https://blogagrobisnis.wordpress.com/" target="_blank" title="Blog Agrobisnis"> <img src="https://blogagrobisnis.files.wordpress.com/2010/01/blog-agro.png" alt="Blog Agrobisnis"> </a>


%d blogger menyukai ini: