Itik 60 Hari Panen

MANA yang dipilih anak muda; melanjutkan kuliah di bangku perguruan tinggi atau menjadi peternak itik? Pada akhir 2008, Rika Adi Kusuma memilih menjadi peternak itik khusus pedaging. Pria 22 tahun itu memelihara 500 itik pejantan umur sehari menetas (day old duck–DOD). Setelah 60 hari DOD itu dipelihara, Rika memanen 290 itik yang memberinya pendapatan Rp5,8 juta.

Sebanyak 290 unggas air berumur 2 bulan itu sesungguhnya panen kedua. Panen pertama berlangsung saat umur itik 50 hari sejak menetas. Saat itu 60-an ekor mencapai bobot jual 1,3 kg/ekor. Selanjutnya berturut-turut pada umur 60 hari sejak menetas (290-an ekor) dan terakhir saat umur itik 70 hari sejak menetas (100-an ekor). Dengan tingkat kematian 10%, pria yang berhenti kuliah hukum pada semester IV dari Fakultas Hukum sebuah universitas negeri di Jawa Tengah itu total memanen 450 itik dari 500 DOD yang dipelihara.

Peternak di Desa Ngepungsari, Kecamatan Jatipuro, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, itu membesarkan itik jantan mojosari dan kalung di kandang seluas 100 m®MDSU¯2, beratap genting, dan berpagar bambu setinggi dengkul orang dewasa. Untuk mencapai bobot 1,3 kg per 100 itik diberi 3 jenis pakan: 4-4,5 kg/hari konsentrat (Rp6.000/kg), 10–12 kg/hari bekatul (Rp1.500–Rp1.800/kg), dan 3–5 kg/hari nasi aking alias nasi basi yang dikeringkan (Rp1.500–1.700/kg). Pakan itu dicampur dan diberikan sebanyak 3 kali sehari. Biaya produksi sampai tahap panen mencapai Rp15 ribu/ekor. Nilai itu sudah mencakup pembelian DOD senilai Rp2.500/ekor.

Menjamur

Itik pedaging muda yang dihasilkannya gampang dijual karena penetas telur tempat Iko–panggilan akrabnya–membeli DOD di Boyolali, Jawa Tengah, juga bertindak sebagai penampung. Itik-itik itu dibeli seharga Rp20 ribu/ekor. Total dari 450 itik, Iko mendulang pendapatan Rp9 juta. Setelah dipotong biaya produksi dan lain-lain, Iko menangguk laba bersih sekitar Rp1 juta. Saat ini Iko rutin memanen sekitar 450 ekor setiap 10 hari. Kontinuitas itu berlangsung sejak pertengahan 2009, setelah Iko menambah populasi itik. Iko memelihara 3.500 itik berlainan umur di tujuh kandang lain di lahan seluas 500 m®MDSU¯2.

Nun di Semarang, Jawa Tengah, Kuadi juga menekuni ternak itik pedaging. Terhitung sejak Oktober 2009, karyawan sebuah perusahaan kontraktor di kota Atlas itu memelihara 1.000 itik kendal dan kalung. Mereka dipelihara per 250 ekor di 4 kandang masing-masing seluas 120 m®MDSU¯2. Saat wartawan Trubus Tri Susanti berkunjung ke lokasi kandang di Gunungpati, Semarang, itik-itik itu telah mencapai bobot rata-rata 0,8–0,9 kg/ekor. Bobot jual 1,3 kg/ekor diperkirakan dicapai awal Desember 2009. Saat itu pengepul di Semarang siap membeli dengan harga Rp23 ribu–24 ribu/ekor.

Sejatinya itik jantan umur 2 bulan sejak lama digadang-gadang sebagai pedaging. Sayang, lantaran ketersediaan DOD jantan terbatas, usaha pembesaran itik jantan tersendat. Maklum harga DOD jantan jauh lebih murah dibanding DOD betina sehingga tidak diproduksi serius oleh peternak yang mengusahakan penetasan telur. Itulah sebabnya konsumsi itik pedaging masih mengandalkan itik apkir alias betina umur 1,5–2 tahun yang sudah tidak produktif bertelur. Itik apkir sebetulnya kurang diminati karena dagingnya alot.

Namun, apa boleh buat karena yang tersedia itik apkir, rumah makan, restoran, hingga warung-warung tenda masih menggunakan itik tua itu. Toh dengan cara masak tertentu, daging itik apkir bisa disulap menjadi empuk. Sebab itu pula banyak rumah makan penyedia menu bebek tak mempermasalahkan pemakaian itik apkir. Bahkan beberapa rumah makan itu fanatik memakai daging itik tua. “Dagingnya tidak lekas hancur kalau diolah,” kata Rachmad, manajer Bebek H. Slamet cabang Yogyakarta. Bebek H. Slamet sendiri menyerap 500–600 itik apkir setiap akhir pekan dari rata-rata kebutuhan 400 ekor/hari.

Yang jelas kini penyedia menu itik menjamur di berbagai kota di Tanah Air. “Pada 2000, tujuh dari 10 orang yang ditanya lebih menyukai ayam ketimbang itik. Sekarang kondisinya sudah 50:50,” ujar drh. Linus Simanjuntak, praktisi unggas di Depok, Jawa Barat. Karena konsumsi meningkat, banyak yang melirik memakai itik jantan pedaging.

“Pasokannya lebih terjamin,” kata Gunawan Arif, pemilik bebek KaneuW di Malang, Jawa Timur. Sejak setengah tahun lalu kebutuhan 25–40 itik/hari untuk tiga gerainya dipenuhi dari itik jantan pedaging. “Sejauh ini konsumen tidak mempermasalahkan kehadiran daging itik muda itu,” ujar Gunawan yang juga mengolah itik pedaging itu menjadi smoke duck, rendang, hingga dikukus. Diversifikasi produk itu cukup mendongkrak penjualan. “Banyak pesanan datang dari Aceh, Maluku, dan Batam,” ujar Gunawan.

Sementara Ngesti di bilangan Juanda, Depok, Jawa Barat, memakai itik pedaging muda karena pelanggannya menyukai citarasa daging itik yang lembut. “Waktu masaknya juga singkat. Hanya butuh sekitar 1 jam untuk membuat daging empuk. Kalau itik apkir bisa 4 jam,” ujar pemilik Rumah Makan Artani yang membutuhkan hingga 30 itik/hari itu.

Menurut Heriyanto, pengepul besar di Semarang, Jakarta pangsa pasar itik pedaging paling besar. Alumnus Fakultas Ekonomi Atmajaya di Makassar, Sulawesi Selatan, itu menyebut angka 150 ribu ekor/bulan. Padahal volume itu baru mencakup Jakarta Selatan dan Barat. “Kalau dihitung seluruh Jakarta bisa mencapai 250 ribu–300 ribu itik/bulan,” ujar Heryanto. Di luar Jakarta, Surabaya dan Denpasar termasuk tiga besar pengonsumsi daging itik.

Umur 2 bulan

Sejalan dengan permintaan daging itik yang terus meningkat, tren mengusahakan itik pedaging merebak jantan di banyak tempat. Tak hanya di Pulau Jawa, tetapi juga melebar hingga Jambi, Pekanbaru, Makassar, Palembang, dan Batam. Sayang penyedia DOD masih fokus mencetak DOD betina untuk petelur.

Imbasnya harga DOD jantan terkerek naik. Menurut Agus Harianto, penyedia DOD di Mojokerto, Jawa Timur, pada 2004–2005 harga DOD jantan berkisar Rp300–Rp350/ekor; betina Rp3.000–Rp3.500. Kini harga DOD jantan hampir sama dengan DOD betina. “Harga DOD jantan dan betina sekarang berselisih Rp1.000–Rp1.500,” kata Agus yang rutin memasok 500–1.000/bulan DOD jantan ke Jambi dan Palembang itu.

Sulitnya memperoleh DOD jantan mendorong Koko Haerudin memilih mengumpulkan itik jantan umur 2 bulan berbobot 1,1–1,2 kg/ekor. Itik yang didatangkan dari Indramayu, Subang, Tasikmalaya–semua di Jawa Barat–hingga Brebes di Jawa Tengah, itu dibesarkan lagi selama 7–10 hari hingga didapat bobot konsumsi 1,32–1,35 kg/ekor. Koko menjual seharga Rp23 ribu/ekor.

Dengan cara seperti itu laba peternak di Desa Sukatani, Kecamatan Ngamprah, Padalarang, Jawa Barat, itu memang tipis. Dengan biaya produksi Rp22 ribu/ekor (itik Rp19 ribu/ekor dan pakan Rp3.000/ekor), Koko mengutip keuntungan Rp1.000/ekor. Meski labanya tipis, Koko kini rutin memasok 5.000–6.000 itik/bulan ke beberapa pengepul di Bandung, Jakarta, dan Tangerang.

Jika ingin untung lebih tinggi, Purwanto Joko Slamento layak ditiru. Peternak di Depok, Jawa Barat, itu membesarkan itik dari DOD dan menjualnya setelah sampai ukuran konsumsi dalam bentuk karkas atau potongan. Dosen arsitektur Universitas Gunadarma di Depok itu menjual karkas berbobot 8 ons (diperoleh dari itik bobot 1,2 kg/ekor) seharga Rp30 ribu. Keuntungan dari setiap ekor mencapai Rp6.000–Rp7.000, sementara jika dijual hidup Rp18 ribu/ekor, Joko hanya memperoleh keuntungan Rp3.000/ekor (biaya produksi Rp15 ribu/ekor).

Prospek

Namun, beternak itik remaja pedaging tidak lepas dari kendala. Masalah terbesar memang terbatasnya ketersediaan DOD pejantan. Namun, meski DOD didapat, tidak serta-merta menjamin sukses beternak lantaran pada periode umur 1–5 hari persentase kematian itik bisa di atas 25%. Sanitasi kandang jelek serta telat memberi pakan dan air minum memicu kematian itu.

Ketersediaan bekatul–pakan utama–tidak boleh dianggap remeh. Terutama saat tiba musim hujan yang membuat produksi bekatul merosot tajam. Untuk menyiasatinya Iko, misalnya, menimbun bekatul hingga 15 ton setiap kali musim panen padi tiba. Bekatul itu dikeringkan di bawah terik matahari supaya tahan disimpan setahun. Di sisi lain keuntungan peternak sangat tergantung pada harga dedak. Dengan harga dedak kini Rp1.500–1.600/kg dirasa cukup memberatkan peternak. “Kebutuhan dedak kami mencapai 30%–35% dari total pakan,” kata Koko.

Soal penyakit? Asalkan rajin merawat kebersihan kandang dan kelembapan, penyakit seperti mata putih–mata itik keluar cairan putih berujung pada tersumbatnya saluran napas–yang menular dan mematikan dapat dicegah. Batu sandungan lain sebagian peternak, terutama di luar sentra, berhenti memproduksi pejantan lantaran bingung menjual. Maka dari itu pada saat awal beternak, mesti dipastikan pasar yang hendak disasar. “Beriklan melalui internet cukup efektif,” kata Iko. Itu pula yang dilakukan Koko saat merintis pasar: berpromosi melalui dunia maya.

Bila kerikil-kerikil itu terlewati, prospek pasar itik pedaging cukup menjanjikan. Apalagi, “Biayanya tidak sebesar itik petelur,” kata Suhartati, ketua kelompok Tani Ternak Lestari Jaya di Kecamatan Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur. Lihat saja misalnya ongkos pakan 500 itik pedaging, hanya Rp8.000/hari; itik petelur Rp30 ribu/hari. Sulardi, peternak itik petelur yang notabene ayah dari Iko sependapat. “Untuk memelihara 1.000 petelur perlu modal sampai Rp55 juta. Dengan jumlah sama itik pedaging hanya perlu Rp15 juta,” ujar Sulardi.

Ke depan kebutuhan daging itik mengandalkan pasokan dari itik pejantan yang dipanen 60 hari. “Selama masih ada rumah makan penyedia bebek, itik pedaging pasti dibutuhkan,” kata Dody Faizal, peternak di Desa Brangkal, Kecamatan Sooko, Mojokerto, Jawa Timur, yang kini mengusahakan 1.000 itik pejantan mojosari. Rasa yakin itu dipegang teguh Rika Adi Kusuma saat memutuskan meninggalkan bangku kuliah untuk beternak itik pedaging. n TRUBUS

About these ads

Satu Tanggapan

  1. Kami dari Pengusaha Penetasan DOD itik di Kendal Jawa Tengah mohon info untuk pemasaran itik DOD Jantan, tolong kasih alamat para pengepul DOD itik jantan, khususnya di Semarang dan Kota-kota lainnya, mksh

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: